Minggu, 21 Jul 2024
Home
Search
Menu
Share
More
abuamatillah pada Adab & Akhlak
6 Jul 2024 08:52 - 6 menit reading

​Untaian Nasihat Hatim Al-Asham rahimahullah (Bagian I)

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
:أما بعد

       Setiap muslim dituntut untuk selalu memiliki rasa takut kepada Allah, bersemangat, membenahi diri, dan bersegera melakukan ketaatan yang mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala.

       Di antara hal yang akan memotivasi seseorang untuk beramal dan membenahi dirinya adalah dengan membaca dan menelaah nasihat-nasihat para ulama. Oleh karena itu, berikut ini kami akan menyebutkan untaian nasihat salah seorang ‘alim, yaitu Imam Hatim al-Asham rahimahullah, beliau berkata:

عَلمتُ أنّ رِزقي لا يَأكُله غَيري فاطمأنَّتْ به نفسي, وعلمتُ أن عَملِي لا يَعملُه غيري فأنا مَشغُولٌ به, وعلمت أن الْمَوتَ يأتيني بَغتة فأنا أبادره, وعلمت أنِِي لا أخلو من عين الله حيث كنتُ فأنا مُستحيٍ منه

Artinya:
Aku mengetahui bahwa rezekiku tidak akan dimakan oleh orang lain sehingga jiwaku menjadi tenang, Aku mengetahui bahwa amalanku tidak akan dikerjakan oleh orang lain maka Aku sibuk dengannya, Aku mengetahui bahwa kematian akan datang kepadaku secara tiba-tiba maka Aku bersegera (mempersiapkan diri), Aku mengetahui bahwa Aku tidak akan pernah lepas dari pengawasan Allah sehingga Aku malu kepada-Nya. [Siyar A’laam an-Nubalaa, juz IX, hal. 385, Shifah ash-Shafwah, juz IV, hal. 141]

     Para ulama berbeda pendapat tentang nama ayahnya, ada yang mengatakan Hatim bin Unwan, ada yang mengatakan Hatim bin Yusuf dan ada yang mengatakan Hatim bin Unwan bin Yusuf. Kunyah beliau adalah Abu Abdirrahman. Beliau wafat pada tahun 237 H. [Siyar A’laam an-Nubalaa, juz IX, hal. 385, Shifah ash-Shafwah, juz IV, hal. 141]

Pertama: Aku Mengetahui Bahwa Rezekiku Tidak Akan Dimakan oleh Orang Lain Sehingga Jiwaku Menjadi Tenang { علمت أنّ رزقي لا يأكله غيري فاطمأنت به نفسي }

       Ini merupakan keyakinan kuat yang harus dimiliki oleh setiap orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala bahwa rezekinya telah ditetapkan dan tidak akan berpindah kepada orang lain. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya:
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. [Surah az-Zukhruf, ayat 32]

       Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawiy rahimahullah ketika menafsirkan penggalan ayat:

… نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia …

Maknanya adalah:

فجعلنا هذا غنيًّا وهذا فقيرًا وهذا مالكاً وهذا مملوكاً, فكما فضلنا بعضهم على بعض في الرزق كما نشاء, كذلك اصطفينا بالرسالة من شئنا

Kami jadikan ada yang kaya dan ada yang miskin, ada yang berkuasa dan ada yang dikuasai. Maka Kami lebihkan sebagian mereka terhadap sebagian yang lain dalam masalah rezeki sebagaimana kehendak Kami, demikian juga Kami memilih dengan risalah. [Tafsir al-Baghawiy, hal. 1167]

        Abu al-Fidaa’ Ismail bin Katsir rahimahullah berkata: “Kemudian Allah berfirman menjelaskan bahwa Dia telah membeda-bedakan antara makhluk-Nya berkaitan dengan apa yang Dia karuniakan kepada mereka, meliputi rezeki, akal, pikiran, pemahaman dan lain sebagainya mencakup kekuatan lahir dan batin, seraya berfirman”:

…. نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia … [Tafsir Ibnu Katsir, juz IV, hal. 151]

        Ayat di atas menunjukkan bahwa rezeki seseorang apapun bentuknya, baik berupa risalah kenabian, harta, kekuasaan, akal, pemahaman, kekuatan lahir dan batin semuanya merupakan ketentuan Allah subhanahu wata’ala yang tidak mungkin berpindah kepada orang lain.

       Seorang mukmin juga hendaknya meyakini bahwa dia tidak akan meninggal hingga dia menyempurnakan rezekinya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَنَّهُ لَيْسَ مِنْ نَفْسٍ تَمُوتُ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا …

Artinya:
Sesungguhnya tidak ada jiwa yang meninggal hingga dia menyempurnakan rezekinya. [Diriwayatkan oleh al-Baghawiy, no. 4111]

Kedua: Aku Mengetahui Bahwa Amalanku Tidak Akan Dikerjakan Oleh Orang Lain Maka Aku Sibuk Dengannya { وعلمت أن عملي لا يعمله غيري فأنا مشغول به }

       Amalan seseorang seperti shalat, puasa, dzikir, bacaan al-Qur’an, dan amalan yang lainnya, tidak akan dikerjakan oleh orang lain. Oleh karena itu, hendaknya seorang menyibukkan diri dengan beramal sebagai bekalnya menuju negeri akhirat yang dia akan datang dalam keadaan sendiri.

       Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَكُلُّهُمْ ءَاتِيهِ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ فَرْدًا

Artinya:
Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. [Surah Maryam, ayat 95]

      Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata: “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada Hari Kiamat dengan sendiri-sendiri”,

أي: لا أولاد, ولا مال, ولا أنصار, ليس معه إلا عمله, فيجازيه الله ويفيه حسابه, إن خيراً فخير, وإن شراً فشر

Maksudnya: Tanpa disertai anak, harta, dan para penolong. Tidak ada yang mendampinginya kecuali amal perbuatannya. Kemudian Allah memberikan balasan dan menyempurnakan perhitungannya. Apabila amal perbuatannya baik, niscaya balasannya akan baik. Apabila buruk, maka balasannya pun buruk. [Tafsiir al-Kariim ar-Rahmaan fii Tafsiir Kalaam al-Mannan, hal. 501]

Ketiga: Aku Mengetahui Bahwa Kematian Akan Datang Kepadaku Secara Tiba-tiba Maka Aku Segera Mempersiapkannya { وعلمت أن الموت يأتيني بغتة فأنا أبادره }

       Kematian merupakan hal yang akan menjumpai setiap orang tanpa ada keraguan, walaupun seseorang berada dalam sebuah benteng yang kokoh. 

       Allah subhnahu wata’ala berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ

Artinya:
Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh… [Surah an-Nisaa’, ayat 78]. Dan ayat-ayat yang semakna dengan ayat ini banyak di dalam al-Qur’an. 

       Dan sebagaimana yang disebutkan oleh Hatim al-Asham di atas bahwa kematian itu akan datang secara tiba-tiba, tidak megenal waktu dan usia. Dan ketika dia datang, maka tidak ada seorang pun yang dapat mengakhirkannya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Artinya:
Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan. [Surah al-A’raaf, ayat 34]

       Syeikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah memberikan nasihat yang indah terkait dengan ayat ini, beliau berkata:

فكم من إنسان خرج من بيته يقود سيارته فرجع محمولًا على الأكفان, وكم من إنسان قال لأهله (هيئوا لي طعامًا) فمات ولم يطعمْهُ, وكم من إنسان لبس ثوبَهُ, وزرَّ زِرارَهُ ولم يفكَّ زِرارَ ثوبه إلا الغاسلُ

Betapa banyak orang yang keluar dari rumahnya dengan menyetir mobilnya namun dia kembali dalam keadaan dikafani, betapa banyak orang yang berkata kepada keluarganya: “Siapkan untukku makanan” namun dia meninggal dan tidak memakan makanannya, betapa banyak orang yang memakai bajunya sendiri, mengancing bajunya sendiri namun tidak ada yang melepaskan kancing bajunya kecuali orang yang memandikannya. [‘Asyru Qawaaid fii Tazkiyah an-Nafs, hal. 30]

Keempat: Aku Mengetahui Bahwa Aku Tidak Akan Pernah Lepas Dari Pengawasan Allah Sehingga Aku Malu Kepada-Nya { وعلمت أني لا أخلو من عين الله حيث كنت فأنا مستحي منه }

       Merasa diawasi oleh Allah subhanahu wata’ala merupakan tingkatan yang paling tinggi dari tingkatan-tingkatan agama. Sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama bahwa tingkatan-tingkatan agama ada tiga, yaitu: Islam, Iman, Ihsan.

       Dan ihsan maknanya sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ …

Artinya:
(Ihsan ialah) apabila engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Maka apabila engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu. [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 5]

       Selalu merasa diawasi oleh Allah (muraqabatullah) di dalam ibadah akan melahirkan kekhusyukan serta keikhlasan dalam ibadah tersebut. Adapun merasa selalu diawasi oleh Allah di luar ibadah, maka akan melahirkan rasa takut sehingga seorang tidak akan berani menerjang larangan-larangan-Nya.

       Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِ الَّذِيْ يَرٰىكَ حِيْنَ تَقُوْم .وَتَقَلُّبَكَ فِى السّٰجِدِيْنَ

Artinya:
Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang. Yang melihat engkau ketika engkau berdiri (untuk salat), dan (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud. [Surah asy-Syu’ara, ayat 217-220]

Maksudnya adalah:

وفَوِّضْ أمرك إلى الله العزيز الذي لا يغالَب ولا يُقهَر, الرحيم الذي لا يخذل أولياءه, وهو الذي يراك حين تقوم للصلاة وحدك في جوف الليل, ويرى تقلُّبك مع الساجدين في صلاتهم معك قائماً وراكعاً وساجداً وجالساً, وإنه سبحنه هو السميع لتلاوتك وذكرك, العليم بنيتك وعملك


Dan serahkanlah urusanmu kepada Allah Dzat Yang Maha Perkasa yang tidak dapat dikalahkan dan tidak dapat ditundukkan, Yang Maha Penyayang yang tidak mengabaikan para wali-Nya. Dan Dia-lah yang melihatmu saat kamu berdiri mengerjakan shalat sendirian di tengah malam, dan melihat perubahan gerak badanmu bersama orang-orang yang bersujud dalam shalat mereka bersamamu, dengan berdiri, rukuk, sujud, dan duduk. Sesungguhnya Dia maha Mendengar bacaan al-Qur’an dan dzikirmu, lagi Maha Mengetahui niat dan amal perbuatanmu. [Tafsir al-Muyassar, hal. 376]

       Demikianlah empat nasihat yang indah dari Hatim al-Asham rahimahullah yang akan menjadi motivasi bagi setiap muslim untuk beramal dan mempersiapkan bekal dalam rangka mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kematiannya.

Wallahu a’lam.
Washallahu ‘alaa Nabiyuina Muhammadin wa ‘alaa aalihi washahbihi ajma’iin, walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.