Minggu, 21 Jul 2024
Home
Search
Menu
Share
More
abuamatillah pada Catatan Kajian
15 Jun 2024 06:28 - 4 menit reading

Empat Permintaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Oleh: Anshari, MA.
(Disampaikan di Masjid Kambo Dg. Ngunga, Komp. ABC Maros, 18 Ramadhan 1444 H/08 April 2023M)

Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Nabi shallahu shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِي أَسْأَلُكَ الهُدَى، وَالتُّقَى، وَالعفَافَ، والغنَى

“Ya Allah, sesungguhnya Aku meminta kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, iffah, dan kekayaan.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Kata اللهم asalanya adalah kata (يا الله), kemudian huruf ya (يا) dihapus dan digantikan dengan huruf mim yang bertasydid. Sebab dihapusnya huruf ya (يا):

  1. Karena seringnya digunakan.
  2. Mencari/mendapatkan berkah dengan memulai nama Allah.

Kemudian huruf mim yang menunjukkan jamak sebagai isyarat akan terhimpunnya hati dalam berdoa. Dan huruf mim yang bertasydid di akhir kata sebagai pengganti huruf nida (huruf ya). (Lihat Syarul Mumti, Juz II, hal. 50 dan Jalaaul Afhaam, hal. 140-141)

Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta empat hal:

Pertama: Hidayah/Petunjuk ( الهدى )

Makna Al-Huda adalah (العلم النافع والعمل الصالح) ilmu yang bermanfaat dan amalan shaleh (Bahjatu Qulubil Abraar, hal. 30). Sebagian ulama menyebutkan bahwa hidyah adalah (معرفة الحق والعمل به) mengenal kebenaran dan mengamalkannya.

Terkait dengan masalah hidayah, manusia terbagi tiga golongan:

  1. Golongan yang sama sekali tidak mengenal kebenaran, tidak mengenal iman, islam, dan tidak pula melakukan amalan shaleh. Karena mereka tidak mendapatkan hidayah.
  2. Golongan yang mengenal kebenaran, namun tidak mengikutinya. Sebagaimana halnya ahlul kitab, mereka mengenal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun mereka tidak mengikutinya.
    Allah subhanahu wata’ala berfirman:

    الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

    “Orang-orang yang telah Kami beri Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesunghuhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahuinya.” (Surah Al-Baqarah, ayat 146)
  3. Orang yang mengenal kebenaran dan mengikutinya. Itulah orang yang berislam, beriman, mengikuti apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Mereka selalu meminta hidayah dan dikokohkan di atas hidayah tersebut.

Kedua: Ketakwaan (التقى)

Ada beberapa makna yang disebutkan oleh para as-salaf tentang makna takwa, di antaranya:

  1. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata ketika menafsirkan ayat:

    أن يُطاع فلا يُعصى, وأن يُذكر فلا يُنس, وأن يُشكر فلا يُكفر

    Allah ditaati dan tidak dimaksiati, diingat dan tidak dilalaikan, disyukuri dan tidak dikufuri.” (Tafsir Ibnu Katsiir, Juz I, hal. 568)
  2. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

    لا يتقي الله العبد حق تقاته حتى يحزن لسانه

    “Seorang hamba belum dianggap bertakwa kepada Allah dengan sebenarnya hingga dia mampu menjaga lisannya.” (Tafsir Ibnu Katsiir, hal. 568)
  3. Thalaq bin Habiib rahimahullah berkata:

    التقوى أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله وأن تترك معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله

    Takwa adalah engkau melakukan amalan ketaatan kepada Allah di atas cahaya (petunjuk) Allah karena engkau mengharap pahala di sisi Allah. Dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya (petunjuk) Allah karena engkau takut dari siksa Allah. (Jaamiul Uluum wal Hikam, hal. 171)

Ketiga: Menjaga Kehormatan Diri ( العفاف )

Al-‘Afaaf artinya: (التنزه عما لا يباح والكف عنه) bersih dan menjaga diri dari sesuatu yang tidak dibolehkan.
Menjaga kehormatan diri dengan cara:

  1. Menikah, sehingga tidak jatuh pada perbuatan yang diharamkan seperti pacaran, zina, dan lainnya.
  2. Tidak meminta-minta, karena meminta-minta termasuk perbuatan yang dapat menjatuhkan kehormatan diri. Oleh karena itu, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk bekerja.

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

    لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلًا فَيَأْخُذَ حَزْمَةً مِنْ حَطَبٍ فَيَبِيْعُ ذٰلِكَ فَيَكُفَّ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرًا مِنْ أنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أُعْطِيَ أوْ مُنِعَ

    Sungguh seorang dari kalian mengambil seutas tali lalu dia mencari kayu bakar kemudian menjualnya demi menjaga kehormatan dirnya, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada manusia, bisa jadi diberi atau ditolak. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy)

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa pekerjaan yang paling baik adalah usaha dengan tangan sendiri. Beliau pernah ditanya:

    أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ? قَالَ: عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ, وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُوْرٍ. (رواه البزار)

    Pekerjaan apa yang paling baik? Beliau menjawab: pekerjaan seseorang dengan tangannya, dan setiap jual beli yang bersih.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy)

    Dan juga hadits:

    مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ, وَإنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

    Tidaklah seseorang mengomsumsi makanan lebih baik dari makanan yang diperoleh dari hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Daud dahulu makan dari hasil tangannya sendiri.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhariy secara marfu)

Keempat: Kekayaan ( الغنى )

Kekayaan ada dua:

  1. Kekayaan materi berupa harta dan lainnya.
    Dan ini tidaklah tercela selama hal itu dimanfaatkan dalam rangka ketaatan kepada Allah dan tidak melalaikannya. Oleh karena itu para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam ada di antara mereka yang kaya raya, seperti Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu.
  2. Kekayaan hati dan itulah kekayaan yang hakiki.
    Oleh karena itu Syeikh Dr. Muhammad Luqman As-Salafiy rahimahullah menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan al-ghina di sini adalah: (هو غنى النفس والاستغناء عن الناس وعما في أيدهم) kekayaan hati, tidak membutuhkan orang lain, dan tidak membutuhkan apa yang dimiliki oleh orang lain.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْأَرضِ وَلٰكِنَّ الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ

    Bukanlah kekayaan dengan banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kekayaan hati.

Inilah hakikat dari kekayaan. Oleh karena itu, banyak di antara manusia yang memiliki kekayaan materi, akan tetapi mereka selalu merasa kekurangan. Walaupun mereka tinggal di rumah yang mewah, luas dan besar, namun mereka merasa sempit. Itu disebabkan karena tidak adanya kekayaan hati.

Namun sebaliknya, ada di antara manusia yang hartanya tidak melimpah, rumahnya sederhana saja, kendaraannya biasa saja bahkan munhkin tidak memiliki kendaraan, tetapi dia selalu merasa cukup dan selalu hidup bahagia, karena dia memiliki kekayaan hati.

Maka doa ini dan yang semisalnya sangat layak untuk selalu diucapkan, khususnya di waktu-waktu mustajabah, seperti bulan Ramadhan, sepertiga malam terakhir, waktu sahur, waktu berbuka, antara adzan dan iqamah, akhir shalat, dan lainnya dari waktu yang istimewa.

Wallahu Ta’ala a’lam.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وأصحابه أجمعين. والحمد لله رب العالمين